Sains

Selasa, 25 November 2014

DAUN MINT (Mentha arvensis L)

         Daun mint merupakan salah satu rempah-rempah yang dapat dimanfaatkan dalam keadaan masih segar maupun dalam keadaan kering. Minyak atsiri mint dapat diperoleh dengan mengisolasi daun mint. Kandungan kimia minyak atsiri mint terdiri dari mentol (50%), menton (10-30%), mentil asetat (10%), dan derivat monoterpen lain seperti pulegon, piperiton, dan mentafuran.

Sumber gambar : skepat-lombok.blogspot.com
Nama Ilmiah
Mentha arvensis L
Sinonim
-
Nama Lokal              
Bijanggut (Sunda), Poko (Jawa Tengah)   
Familia    
Labiate  
Ordo   
Solanales

Terpene adalah derivat dari isoprene dengan formula molekul (C5H8)n dan dihasilkan oleh tumbuhan (Kriste,  2003). Terpene merupakan konstitusi utama dari minyak esensial dari kebanyakan tumbuhan termasuk pohon mint (Mentha arvensis). Terpene yang disemprotkan ke nyamuk akan membuat satu lapisan tipis yang menutupi spirakel atau rongga tempat nyamuk bernafas, sehingga menyebabkan asfiksia  sehingga menyebabkan  kematian  pada  nyamuk.  Di  sisi lain, partikel kristal minyak ini juga menembus masuk       ke dalam eksoskeleton nyamuk, berakumulasi di bawah lapisan proteksi ini dan menyebabkan terbentuknya lubang-lubang kecil sehingga partikel beraroma dari minyak ini dapat masuk ke dalam badan nyamuk. Partikel kristal mengabsorbsi cairan tubuh nyamuk sehingga menyebabkan dehidrasi manakala partikel beraromanya memberikan efek kepada sistem saraf nyamuk sehingga menyebabkan kematian nyamuk (Cranshaw, 2009).
Selain itu, tanin pada daun mint bersifat sebagai cholinasterase inhibitor yang merusak sistem  saraf  nyamuk.  Sistem  syaraf  nyamuk terdiri dari otak dan neuron. Neuron adalah sel syaraf yang menghantar impuls ke seluruh organ di dalam  badan  nyamuk. Sinyal yang menstimulasi neuron  dibawaoleh enzim asetilkolin. Stimulasi dari sinyal ini bagaimanapun di hambat oleh enzim lain yang memecahkan   enzim asetilkolin   yaitu   enzim asetikolinasterase.  Apabila  tanin mempenetrasi dinding badan nyamuk, cholineasterase inhibitor akan melewati sinap di sistem syarafnya dan menghambat  kerja asetilkolinasterase yaitu memecahkan asetilkolin, maka kerja asetilkolin berjalan  terus  tanpa  henti   sehingga  seluruh sisteorgan rusak dan menjadi disfungsi dan berakhi denga kematia nyamu (CMCD,2008). Tanin berperan penting sebagai insektisida  karena menyebabkan rusaknya membran dinding sel (bagian luar yang membentuk struktur badan nyamuk) sehingga nyamuk mati (Hisanori, 2001).
Dalam daun mint juga terdapat flavonoid. Peran larvasida flavonoid terjadi melalui mekanisme hambatan sintesa asam nukleat (DNA) larva, yang menyebabkan kematian larva tersebut. Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai   deretan   senyawa   C6-C3-C6.   Efek flavonoid terhadap organisme bermacam- macam. Salah satu diantaranya adalah juga sebagai inhibitor pernafasan larva (Cowan,1999). Peran flavonoid sebagai insektisida adalah menghambat makanan nyamuk dan juga bersifat toksik. Flavonoid yang dikonsumsi masuk ke dalam organ utama pencernaan nyamuk, yaitu ventrikulus akan terserap bersama sari  makanan  sehingga  menurunkan  aktivitas enzim pencernaan dan penyerapan makanan. Selanjutnya akan diedarkan ke seluruh bagian tubuh nyamuk oleh hemolimfe. Akibatnya, aktivitas nyamuk  seperti metabolism, pertumbuhan dan pergerakan terhambat sehingga akhirnya nyamuk mati (Dinata, 2008). Dalam daun mint senyawa Mentol dan linalool, mempengaruhi neurotransmisi, menghambat transpor ion, anestetik

Sumber :
Verpoorte, R. and A.W. Alfermann. 2000. Metabolic engineering of plant secondary metabolism. Springer. 1-3pp.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar